Kamis, 07 Maret 2013

PEMIJAHAN DAN EMBRIOGENESIS IKAN LELE Clarias sp.


Laporan Praktikum Besar              Hari/Tanggal : Senin/ 28 Desember 2012
m.k. Fisiologi Reproduksi               



PEMIJAHAN DAN EMBRIOGENESIS
IKAN LELE Clarias sp.





Intan Kurnia Sakarosa           C14100056


Description: logo_ipb






DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012















I.     PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
          Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu komoditas ikan konsumsi air tawar yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Menurut KKP (2011), produksi ikan lele mencapai 337.577 ton atau meningkat sebesar 39,03%. Peningkatan produksi lele pada tahun 2011 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 yang peningkatannya mencapai 67,74%. Permintaan pasar yang relatif tinggi serta harga yang cenderung stabil menjadikan ikan ini menjadi komoditas favorit di sebagian kalangan pembudidaya. Untuk memenuhi permintaan pasar tersebut, penyediaan benih berkualitas dalam jumlah memadai perlu dilakukan melalui penggunaan teknik pemijahan induk yang  tepat.
          Pemijahan merupakan proses keluarnya sel kelamin atau sel gamet dari dalam tubuh. Pemijahan pada ikan lele dapat dilakukan secara alami, semi alami maupun buatan. Sebelum dipjahkan induk ikan lele harus dilakukan seleksi terlebih dahulu, supaya kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan bagus. Rasio indukan yang digunakan untuk pemijahan yaitu 1:1. Menurut Rosyatin (2012). Jumlah indukan jantan dan betina yang digunakan dalam proses pemijahan yaitu 1:1 dengan bobot yang hamper sama, hal tersebut bertujuan untuk mengurangi tingkat kanibalisme ikan lele itu sendiri.
          Embriogenesis berguna untuk mengetahui fase perkembangan embrio suatu makhluk hidup. Informasi yang diperoleh dari proses embriogenesis akan berguna untuk rekayasa genetika, pemuliaan ikan, ataupun keperluan lainnya. Dalam pemijahan ikan, umumnya digunakan tiga jenis teknik, yaitu teknik pemijahan alami, semi-alami, dan buatan. Oleh karena itu, praktikum ini perlu dilakukan untuk mencari pengaruh teknik pemijahan yang berbeda.
           

1.2         Tujuan
Praktikum kali ini akan melihat pengaruh teknik pemijahan yang berbeda terhadap proses embriogenesis ikan lele dan Mencari pengaruh teknik pemijahan yang berbeda terhadap embriogenesis ikan lele (Clarias sp.).
II.  METODOLOGI

2.1         Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Jumat  tanggal 7  Desember 2012. Pukul 18.30 WIB sampai hari Sabtu tanggal 8 Desember 2012  pukul 24.00 WIB. Praktikum ini bertempat di kolam percobaan Babakan dan pengamatan embriogenesisinya dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budi daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2         Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain jaring, timbangan, bak pemijahan dengan ukuran 1.5 m x 1 m x 1 m, kakaban, ember, saringan, sapu lidi, sikat gelas objek, mikroskop, pipet dan gelas film, sedangkan bahan yang digunakan antara lain: ikan Lele jantan dengan ukuran 550 gram dan 825 gram, sedangkan ikan lele betina dengan ukuran 490 gram dan 625 gram , larutan fisiologis, dan air untuk media hidup ikan.

2.3     Prosedur kerja
2.3.1 Persiapan Wadah
Persiapan wadah yang dilakukan untuk pemijahan ikan lele secara alami diawali dengan  pembersihan kolam pemijahan dengan sapu lidi, sikat yang dibersihkan terlebih dahulu, setelah itu kolam pemijahan diisi air sampai setengah dari tinggi bak pemijahan.
2.3.2 Seleksi Induk
          Induk yang akan digunakan untuk pemijahan diseleksi terlebih dahulu. Bobot induk untuk betina yaitu 490 gram dan jantannya 550 gram untuk bak pemijahan pertama, sedangkan untuk bak pemijahan yang kedua, bobot induk betina yaitu  625 gram dan jantannya 825 gram. Induk betina yang dipilih yaitu induk yang mempunyai ukuran perut yang besar , lembek dan apabila distipping akan keluar cairan bening dan jika di striping terlalu berlebihan akan menyebabkan telur ikan akan keluar, sedangkan induk jantan yang dipilih yaitu jantan yang mempunyai papilla berwarna merah dan agresif . Perbandingan induk yang akan dipijahkan yaitu 1:1, satu jantan dan satu betina.

2.3.3 Pemijahan
Pemijahan ikan lele secara alami dilakukan dengan cara dimasukkannya ikan lele jantan dan betina dengan rasio 1:1 di bak pemijahan dengan ukuan 1.5 m x 1 m x 1 m, yang sebelumnya dilakukan pemasangan kakaban sebanyak 5 buah sebagai substrat  penempelan telur. Selanjutnya tunggu ikan sampai mijah, waktu pemijahan membutuhkan waktu 10-15 jam. Menurut Rosyatin (2012). Waktu yang digunakan untuk pemijahan ikan lele tergantung bobot tubuh ikan, kondisi fisiologis ikan dan kondisi lingkungan ikan, rata-rata ikan lele akan melakukan pemijahan selama 8-15, setelah ikan dicampurkan.
      
2.4     Parameter yang diamati
2.4.1    Fekunditas
            Penghitungan fekunditas dilakukan dengan sampling. Kakaban yang ditempeli telur dipotong dengan ukuran 10cm x 10cm. Kemudian diletakkan potongan tersebut di akuarium kecil dan dihitung jumlah telur yang menempel dengan perhitungan manual. Menurut Sumandinata (1981). Fekunditas merupakan jumlah telur yang dihasilkan oleh 1 Kg induk. Kemudian fekunditas dapat dihitung dengan rumus berikut:

Fekunditas =   



2.4.2    Gonadasomatic Index
            Penghitungan GSI diawali  dengan menghitung bobot induk lele betina sebelum dan sesudah memijah. Nilai GSI digunakan untuk memprediksi kapan ikan tersebut akan siap dilakukannya pemijahan Nilai GSI tersebut akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadinya pemijahan Setelah itu GSI dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
                                       GSI=   
Keterangan:
 Satuan bobot ikan dalam gram (g).
2.4.3    Fertilization rate
            Penghitungan FR dilakukan dengan menghitung jumlah telur yang dibuahi pada kakaban sampling kemudian dibandingkan dengan jumlah total telur yang ada di kakaban sampling. Menurut Sumandinata (1981), FR merupakan derajat pembuahan telur yang dilakukan oleh induk jantan, nilai FR ini tergantung pada kualitas telur dan kualitas maupun kuantitas sperma. Nilai FR dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

FR =  x 100%


2.4.4    Hatching Rate
            Penghitungan HR dilakukan 2 hari setelah penghitungan FR. HR merupakan suatu parameter yang digunakan untuk melihat derajat penetasan telur (Sumandinata 1981). HR dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

HR =  x 100%

2.4.5    Embriogenesis
            Pengamatan embriogenesis ikan lele dimulai sekitar pukul 7.00 WIB dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 x 10. Pengamatan dilakukan oleh tiap shift. Selama pengamatan embryogenesis berlangsung dilakukan proses dokumentasi. Pengamatan dilakukan hingga telur ikan lele menetas.

2.4.6    Survival Rate
            Penghitungan SR dilakukan sampai yolk pada larva habis. SR merupakan nilai  derajat kelangsungan hidup. Nilai SR dapat dihitung dengan rumus berikut:
                                      SR =  x 100%
2.5     Analisis data
Data yang diperoleh dari praktikum dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan disajikan dalam bentuk tabel.





























III.        HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1         Hasil
Dari praktikum  yang telah dilakukan  mengenai  embryogenesis paa ikan lele (Clarias sp.)  diperoleh hasil seperti pada tabel di bawah :
Tabel 1. Embriogenesis pada ikan lele Clarias sp.
Waktu
Tahap Perkembangan

Gambar pengamatan
Gambar Literatur
07.21
2 sel



1
Sumber: Sary (2010)
07.39
4 sel



4sel
Sumber: Sary (2010)
07.42
8 sel




8sel
Sumber: Sary (2010)
07.44
16 sel



16sel

Sumber: Sary (2010)
07.47
32 sel



32sel

Sumber: Sary (2010)
08.44
Morula



m awal
Sumber: Sary (2010)
10.14
Blastula



blastula
Sumber: Sary (2010)
13.18
Grastula



shiiiiit
Sumber: Sary (2010)
19.14
Perkembangan tulang belakang



somit
Sumber: Sary (2010)
19.40
Perkembangan sirip kaudal



BM3
Sumber: Sary (2010)
04.05
Perkembangan mata



bintik mata
Sumber: Sary (2010)
07.08
Penetasan



larva1
Sumber: Sary (2010)

          Berdasarkan tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa setiap beberapa jam sekali terjadi pembelahan dari pembelahan 2 sel sampai terjadi pembelahan 32 sel. Tidak hanya itu, juga terjadi proses embrogenesis dari morula, blastula, gastrula sampai terjadinya penetasan.
Dari praktikum  yang telah dilakukan  mengenai  pemijahan ikan lele diperoleh hasil fekunditas seperti pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Fekunditas Ikan lele Clarias sp.
No
Spesies
Perlakuan
Fekunditas (butir/kg)
Fekunditas Literatur (butir/kg)
Sumber
Literature
1
Ikan Lele Clarias sp.
Alami
43061
40000-60000
Sary (2010)
7210
Semi alami
43080
40000-60000
Sary (2010)
76650
Buatan
51074
40000-60000
Sary (2010)
61700

          Berdasarkan tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa fekunditas ikan lele tertinggi pada perlakuan semi alami ulangan ke-2 sebesar 76650 butir/kg, sedangkan yang terendah pada perlakuan alami  ulangan ke-1 sebesar 7210 butir/kg. Berikut ini tabel hasil Fertilization rate Ikan lele Clarias sp.
Dari praktikum  yang telah dilakukan  mengenai  pemijahan ikan lele diperoleh hasil FR seperti pada tabel 3 berikut ini:




Tabel 3. Fertilization rate Ikan lele Clarias sp.
No
Spesies
Perlakuan
Telur terbuahi (butir)
Total Telur
(butir)
Persentase FR
1

Ikan Lele Clarias sp
Alami
34893
174
81.03%
        6933
208
96.15%
Semi alami
359
359
100%
511
511
100%
Buatan
387
421
91.92%
371
382
97.12%
            Berdasarkan tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa FR ikan lele tertinggi pada perlakuan buatan ulangan ke-2 sebesar 97.12%, sedangkan yang terendah pada perlakuan alami ulangan ke-1 sebesar 81.03%. Berikut ini tabel hasil hatching rate ikan lele Clarias sp.
Dari praktikum  yang telah dilakukan  mengenai  pemijahan ikan lele diperoleh HR seperti pada tabel 4 berikut ini:
Tabel 4. Hatching Rate Ikan lele Clarias sp.
No
Spesies
Perlakuan
Telur terbuahi (butir)
Larva  ( ekor)
Persentase HR
1

Ikan Lele Clarias sp

Alami
141
128
90.78%
200
179
89.5%
Semi alami
359
190
52.92%
511
236
46.18%
Buatan
387
128
33.07%
371
143
38.54%
          Berdasarkan tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa HR ikan lele tertinggi pada perlakuan alami ulangan ke-1 sebesar, 90.78% sedangkan yang terendah pada perlakuan ulangan ke-1 sebesar 33.07%. Berikut ini tabel hasil survival rate ikan lele Clarias sp.
Dari praktikum  yang telah dilakukan  mengenai  pemijahan ikan lele diperoleh hasil fekunditas seperti pada tabel 5 berikut ini:
Tabel 5. Survival Rate Ikan lele Clarias sp.
No
Spesies
Perlakuan
Nt1
(ekor)
Nt5
(ekor)
Persentase SR
1
Ikan Lele Clarias sp

Alami
128
94
73.4%

179
111
62%

Semi alami
190
131
68.94%

236
173
73.31%

Buatan
128
35
27.34%

143
7
4.89%
          Berdasarkan tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa SR ikan lele tertinggi pada perlakuan alami ulangan ke-1  sebesar 73.4%, sedangkan yang terendah pada perlakuan buatan  ulangan ke-2 sebesar 4.98%. Berikut ini tabel hasil gonadosomatic index (GSI)  Ikan lele Clarias sp.
Dari praktikum  yang telah dilakukan  mengenai  pemijahan ikan lele diperoleh hasil GSI seperti pada tabel 6 berikut ini:
Tabel 6. Gonadosomatic Index (GSI)  Ikan lele Clarias sp.
No
Spesies
Perlakuan
Wo
Wt
Wgonad
%GSI
1
Ikan Lele Clarias sp.
Alami
490
350
140
28.57%
625
550
75
12%
Semi alami
600
500
100
22.12%
450
350
100
16.67%
Buatan
450
400
50
12.5%
450
350
100
28.57%
          Berdasarkan tabel 6 di atas dapat diketahui bahwa GSI ikan lele tertinggi pada perlakuan alami dan buatan ulangan ke-1 dan ulangan ke-2 sebesar 28.57% , sedangkan yang terendah pada perlakuan alami ulangan ke-2 sebesar 12%.

3.2         Pembahasan
Ikan Lele termasuk dalam jenis ikan air tawar dengan ciri – ciri tubuh yang memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak memiliki sisik, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Disekitar mulut terdapat bagian nasal, maksila, mandibula luar dan mandibula dalam, masing-masing terdapat sepasang kumis. Hanya kumis bagian mandibula yang dapat digerakkan untuk meraba makanannya. Kulit lele dumbo berlendir tidak bersisik, berwarna hitam pada bagian punggung (dorsal) dan bagian samping (lateral). Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur merupakan sirip tunggal, sedangkan sirip perut dan sirip dada merupakan sirip ganda. Pada sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing yang disebut patil. Patil lele dumbo tidak beracun (Suyanto 2007).
 Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya yang disebut sebagai arborescen organ. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitat alami ikan lele  di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak dan mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan (Prihatman 2000).
          Ciri kelamin pada ikan lele dapat dilihat dari ciri primer dan ciri sekunder. ciri kelamin primer ikan lele jatan mempunyai organ yang bernama testis, mempunyai urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan, jika sudah matang gonad kelamin yang berbentuk papila membengkak dan berwarna merah tua, ikan lele mempunyai tipe pembuluh sperma vesika seminalis, sehingga ikan lele termasuk ikan yang tidak dapat di striping  Sedangkan ikan lele betina mempunyai organ yang bernama ovary, di sekitar kloaka jika ditekan akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam (Khairumaman dan Amri 2007). Sedangkan ciri kelamin sekunder ikan lele jantan kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina, warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina, gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress), perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina, kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina. Sedangkan ikan lele betina kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan, warna kulit dada agak terang, gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung, perutnya lebih gembung dan lunak.
            Description: http://3.bp.blogspot.com/_jYCO4pnsI7E/TPmvqqPfExI/AAAAAAAAAGg/eI72tRgd9U4/s1600/lelejantandan+betina+copy.jpg
Gambar 1. Ikan lele  jantan (atas) dan ikan lele betina (bawah)
Sumber: Sary (2010)
          Menurut Sunarma (2004), handling induk dilakukan selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging (bisa berbagai macam daging), atau makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif tinggi, yaitu ± 60% (untuk pemberian pakan selain pelet sebaiknya sebagai selingan, kadar pemberian cincangan daging setiap 4 - 7 hari sekali). Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan. Dalam handling  pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera diobati.
Pemijahan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dimasukkan dan dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dan jantan dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami dalam wadah/bak pemijahan dan diberi kakaban. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian didiamkan selama ± 6 jam lalu dipijahkan secara buatan dengan cara menstriping induk betina dan mengambil kantung sperma dari induk jantan lalu dicampurkan dalam mangkok dan diaduk rata dengan menguunakan bulu ayam dan disebarkan di kakaban atau waring (Sumantadinata K 1983). Pada praktikum ini dilakukan pemijahan secara alami,semi alami dan buatan pada ikan lele (Clarias sp.) dan kelompok 2 mendapat perlakuan pemijahan ikan lele secara alami.

Gambar 2. Ikan lele (Clarias sp.)
Sumber: Sary (2010)
Parameter yang di amati untuk keberhasilan proses pemijahan adalah fekunditas,FR (Fertlilization Rate),GSI (Gonadotropin Somatic Index), Hatching rate (HR), dan Survival Rate (SR). Menurut Harijanto (2006) nilai GSI (Gonado Somatic Index) merupakan presentase bobot gonad terhadap bobot tubuh.  Berdasarkan pengamatan yang dilakukan nilai GSI yang diperoleh untuk induk 1 dan 2 masing-masing adalah 22,12% dan 12%. Nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai rataan GSI induk lele normal (ukuran 300-600g/ekor) yang diperoleh Harijanto (2006) yaitu 2,63%.  Hal tersebut menunjukkan bahwasanya gonad siap untuk melakukan pemijahan, karena menurut Slamet dan Hariani (2008) gonad akan mencapai nilai maksimum ketika akan terjadi pemijahan, ikan dengan nilai GSI 19% dianggap matang dan mampu dikeluarkan. Selain itu pada umumnya pertambahan berat gonad betina berkisar antara 10-25% dari bobot tubuhnya.
Sunarma (2004) menyebutkan bahwa fekunditas induk lele yaitu ±40.000-60.000 butir/kg dengan dengan derajat pembuahan (FR) berkisar 80-90% dan derajat penetasan (HR) ±80%. Berdasarkan praktikum yang dilakukan, fekunditas induk perlakuan alami 1 yang dipilih ternyata berada di atas kisaran normal yaitu 43080 butir,namun untuk induk perlakuan alami 2 tidak pada kisaran normal yakni 11392. Nilai FR perlakuan alami 1  diperoleh yaitu sebesar 81,03%,dan perlakuan alami 2 sebesar 96,15% nilai ini mendekati pernyataan di atas yang menyebutkan bahwa FR induk lele adalah 80-90%. Nilai FR yang tinggi ini disebabkan perbandingan antara jantan dan betina yang kurang seimbang, karena menurut Sunarma (2004), bahwa perbandingan antara induk jantan dan betina untuk pemijahan buatan adalah 3:0,7 (telur dari 3 kg induk betina dapat dibuahi dengan sperma dari jantan dengan berat 0,7 kg), sedangkan total berat jantan yang dipakai dalam praktikum adalah  ± 2,3 kg (dari 2 ekor). Selanjutnya parameter nilai HR perlakuan alami 1 yang diperoleh yaitu sebesar 90,78%, dan nilai HR perlakuan alami 2 sebesar 89,5% nilai ini normal bila dibandingkan dengan nilai HR yang disebutkan Sunarma (2004), yaitu ± 80%.
          Embriogenesis adalah proses pembelahan sel dan diferensiasi sel dari embrio ikan yang terjadi pada saat tahap-tahap awal dari perkembangan ikan hingga penetasan telur. Tahap-tahap embriogenesis terdiri dari zigot, morula, blastula, grastula dan organogenesis. Zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular, waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan zigot ini adalah 15 menit (Anonim 2009). Berdasarkan hasil praktikum pembentukan zigot berkisar 27 menit yang dimulai dari pukul 07.21 - 07.47 WIB. Hasil dari proses ini disebut embrio. Morula adalah suatu bentukan sel seperti bola (bulat) akibat pembelahan sel terus menerus dimana  keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat, waktu yang dibutuhkan pada tahap ini 2 jam (Anonim 2009). Berdasarkan hasil praktikum dibutuhkan waktu dari proses zigot keproses morula berkisar 97 menit yaitu dari pukul 07.47 – 08.44 WIB. Tahap berikutnya, blastula adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. Tahap blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang tidak beraturan. Berdasarkan hasil praktikum proses morula keproses blastula berkisar 1 jam 7 menit yaitu dari pukul 08.44 – 10.14 WIB. Selanjutnya, gastrula adalah bentukan lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta rongga tubuh, waktu yang dibutuhkan pada tahap ini 4 jam (Anonim 2009). Berdasarkan hasil praktikum dari proses blastula keproses grastula berkisar 3 jam yaitu dari pukul 10.14 - 13.18 WIB. Tahap akhir dari embriogenesis yaitu organogenesis yaitu proses pembentukan organ-organ tubuh pada makhluk hidup (Anonim 2009).   Adapun kegunaan embriologi adalah memberikan pengertian tentang organ dan jaringan yang berbeda, berkembang dari suatu sel tunggal (zigot) dan membantu memberikan gambaran mengenai perkembangan normal dan perkembangan abnormal. Berdasarkan praktikum terlihat perbedaan dan terjadinya pembelahan setiap jamnya. Sehingga dapat membedakan perkembangan sel tunggal sampai penetasan telur.  
          Berdasarkan praktikum ikan yang digunakan adalah ikan lele (Clarias sp.). Awal perkembangan dimulai saat pembuahan (fertilisasi) sebuah sel telur oleh sel sperma yang membentuk zigot (zygot). Gametogenesis merupakan fase akhir perkembangan individu dan persiapan untuk generasi berikutnya. Proses perkembangan yang berlangsung dari gametogenesis sampai dengan membentuk zygot disebut progenesis. Proses selanjutnya disebut embriogenesis (blastogene) yang mencakup pembelahan sel zigot (cleavage), morula, blastulasi, dan gastrulasi. Proses selanjutnya adalah organogenesis , yaitu pembentukan alat-alat (organ) tubuh. Embriologi mencakup proses perkembangan setelah fertilisasi sampai dengan organogenesis sebelum menetas atau lahir, berdasarkan hasil praktikum proses penetasan terjadi pada keesokan harinya pada pukul 07.08 WIB.
          Menurut Nagy (1981), cleavage yaitu tahapan proses pembelahan sel. Proses ini berjalan teratur dan berakhir hingga mencapai balastulasi. Bisa juga dikatakan proses pembelahan sel yang terus menerus hingga terbentuk bulatan, seperti bola yang di dalamnya berisi rongga. Gastrulasi merupakan proses kelanjutan blastulasi. Hasil proses ini adalah terbentuknya tiga lapisan, yaitu ektoderrm, modeterm dan entoderm. Organogenesis adalah tahapan dimana terjadi pembentukan organ-organ tubuh dari tiga lapisan diatas, yaitu ektoderm, metoderm dan entoderm. Setiap lapisan membentuk organ yang berbeda. Ektoterm membentuk lapisan epidermis pada gigi, mata dan saraf pendengaran. Mesoderm membentuk sistem respirasi, pericranial, peritonial, hati dan tulang. Sedangkan entoterm membentuk sel kelamin dan kelenjar endokrin. Berdasarkan hasil praktikum pembentukan tulang belakang terjadi pada pukul 19.14, untuk pembentukan sirip kaudal 19.40. Untuk pembentukan mata terjadi pada keesokan harinya pada pukul 04.05WIB.
          Adapun proses-proses secara terperinci setelah pembuahan terjadi adalah sebagai berikut (Nagy 1981):
1. Proses cleavage; proses pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit sel kecil yang disebut blastomer.
2. Proses blastulasi; proses yang menghasilkan blastula, yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastokoel. Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri atas neural, epidermal,notokhordal, mesodermal,dan entodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ.
3.
Proses grastulasi; proses pembelahan bakal organ yang sudah terbentuk pada saat blastulasi. Bagian-bagian yang terbentuk nantinya akan menjadi suatu organ.
4.
Proses organogenesis; proses pebentukan berbagai organ tubuh secara berturut-turut, antara lain susunan saraf, notochord, mata, somit, rongga kupffer, olfaktorin sac, subnotokhordrod, linear lateralis, jantung, aorta, insang, infundibulum, dan lipatan-lipatan sirip.
          Peristiwa penetasan terjadi jika embrio telah menjadi lebih panjang lingkaran kuning telur dan telah terbentuk perut. Selain itu penetasan telur juga disebabkan oleh gerakan larva akibat temperature, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan tekanan oksigen (Affandi 2000). Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25% dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10%. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran telurnya. Berdasarkan hasil praktikum telur yang dihasilkan mempunyai diameter yang hampir sama pada umumnya.
          Berdasarkan praktikum tidak terdapat perbedaan antara hasil yang diamati dengan gambar literatur. Dapat dilihat pada tabel 1 yaitu tabel hasil embriogensis ikan lele, literatur menunjukkan hasil yang sama dengan hasil yang diamati pada saat praktikum. selain itu waktu yang dibutuhkan dalam proses perkembangan telur sampai telur menetas selama 25 jam. Menurut Effendi (2000), kisaran normal perkembangan telur sampai menetasnya telur (18-20 jam). Hal ini berbeda dengan literatur yang ada, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses embriogenesis antara lain suhu, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan oksigen (Affandi 2000). Lamanya perkembangan telur ikan lele, dikarenakan kurangnya intensitas cahaya, serta suhu. Selain itu, pada praktikum semua perlakuan mengalami pemijahan baik itu perlakuan alami, semi alami, dan buatan
 





















IV.    KESIMPULAN DAN SARAN

4.1         Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum teknik pemijahan dan embriogenesis dapat disimpulkan bahwa pengaruh teknik pemijahan yang berbeda terhadap embriogenesis ikan lele (Clarias sp.) bergantung pada suhu, intensitas cahaya, serta pengaruh pengurangan tekanan oksigen, sehingga akan dihasilkan telur dan larva yang berbeda pada setiap perlakuan pemijahan. Nilai fekunditas dan FR terbaik yaitu pada perlakuan semia alami, sedangkan nilai SR dan HR terbaik pada perlakuan alami. Nilai GSI terbaik pada perlakuan alami dan buatan.


4.2     Saran
Praktikum embriogenesis selanjutnya diharapkan dapat menggunakan komoditas ikan yang berbeda, agar kita dapat membandingkan lama waktu proses embriogenesis pada setiap jenis ikan.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Embriogenesis. http://www.embriogenesis ikan lele.com. [13           Desember 2012].

Afandi R. & Tang U.M. 2000. Biologi Reproduksi Ikan. Laporan. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan.

Efendi M.I. 1997. Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka Nusantara.

Harijanto, Andre. 2006. Upaya Maskulinisasi Induk Lele Dumbo (Clarias sp.) yang Telah Diovariektomi Parsial dengan Metode Implantasi Hormon 17α-metiltestosteron. Skripsi. Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Khairuman, dan Amri. 2008. Budidaya Lele Lokal Secara Intensif.  Jakarta : Agromedia Pustaka.

KKP. 2011. Analisis capaian target produksi lele : produksi naik, capaian naik. http://ww.kkp.go.id   [24 Desember 2012]

 

Nagy A, Bercsenyi M. & Csenyi V. 1981. Sex reversal in corp Cyprinus caprio by oral administration of metthytestosteron. Canadian Journal of Fisheries & Aquatic Science 38: 725-728.

Prihatman K. 2000. Proyek pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan, budidaya ikan lele (Clarias sp.). Jakarta : BAPPENAS

Sary M. 2010. Metode pemijahan ikan lele. http://www.metode-pemijahan.pdf [16 Desember 2012]

Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Bogor: Sastra Hudaya

Sunarma, Ade. 2004. Peningkatan Produktifitas Lele Sangkuriang (Clarias sp.). Sukabumi: Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi.

Rosyatin.2012. Budidaya Ikan Lele.http://www.aquaculture.co.id [27 Desember 2012]









LAMPIRAN


Dokumentasi

Gambar 3. Persiapan pengambilan induk


Gambar 4. Pemilihan induk


Gambar 5. Melihat papila ikan lele


Gambar 6. Kolam pemijahan


Gambar 7. alat penimbangan indukan lele


Gambar 8. Penimbangan bobot ikan lele









Contoh perhitungan
·                     Fekunditas     =   

                              =         
                   =          43061
·                    Gonadasomatic Index
GSI          =
                                                         =
                                                        
= 28.57

·                Fertilization rate
FR       =

                                                   =

                                      = 81.03

·                Hatching Rate
                              HR      = X 100%
                                         
                                          =  X 100%
                                         
                                          = 90.78%

·                Survival Rate
                           SR       =  X 100%

                                       =  X 100%

                                       = 73.4%






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar