Kamis, 07 Maret 2013

UJI BIOLOGIS DAN LAJU PENGOSONGAN LAMBUNG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) dan IKAN PATIN (Pangasius sp.)


Laporan Praktikum ke-14                               Hari/Tanggal   : 21 Desember 2012
m.k. Teknologi Pembuatan dan                      Kelompok       : II
                        Pemberian Pakan                    








UJI BIOLOGIS DAN LAJU PENGOSONGAN LAMBUNG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) dan IKAN PATIN
(Pangasius sp.)



Disusun oleh:
Intan Kurnia Sakarosa
C14100056


















DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Pencernaan adalah suatu proses penyederhanaan makanan melalui mekanisme fisika dan kimia sehingga makanan berubah dari senyawa komplek menjadi senyawa sederhana untuk selanjutnya diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh dan digunakan pada proses metabolisme sistem peredaran darah (Affandi, 2002).
            Salah satu organ yang berperan penting dalam proses pencernaan adalah lambung. Lambung yang merupakan segmen pencernaan yang mempunyai diameter  terbesar dari segmen lainnya. Besarnya ukuran lambung ini berkaitan dengan fungsi lambung yakni penampung makanan dan mencerna makanan. Laju Pengosongan Lambung menggunakan prinsip bahwa lambung yang pada awalnya penuh secara berangsur-angsur akan kosong kembali karena adanya proses pengangkutan makanan (chime) menuju usus melalui segmen pilorus untuk diserap oleh tubuh.  Lama waktu yang digunakan untuk mengosongkan lambung ini dipengaruhi oleh jenis pakan dan faktor lingkungan.
            Tingkat kepenuhan lambung ini diekspresikan dalam nilai indeks kepenuhan lambung (ISC, index of stomach content). Nilai ISC untuk setiap jenis ikan berbeda, sehingga penentuan nilai ISC dengan metode laju pengosongan lambung sangat diperlukan dalam penentuan frekuensi pemberian pakan.
1.2 Tujuan 
Untuk melihat laju digesti atau pengosongan lambung pada ikan. Kompetisi yang ingin dicapai adalah setelah praktikum mahasiswa dapat mengetahui bentuk lambung yang kosong dan berisi pakan, terampil dalam mengisolasi lambung ikan dan dapat menghitung laju pengosongan lambung.







II. METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 7 Desember 2012 hingga tanggal 21 Desember 2012 bertempat di Laboratoriun Nutrisi Basah, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan
            Alat-alat yang digunakan adalah timbangan digital, syiringe, seperangkat alat resirkulasi  air, dan akuarium. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Patin (Pangasius sp.).

2.3 Prosedur Kerja
            Dilakukan pemeliharaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Patin (Pangasius sp.). Masing masing sebanyak 6 dan 8 ekor, selama 14 hari dengan pemberian pakan komersil dan sistem air resirkulasi. Akuarium yang telah diisi dengan air setinggi 20 cm, kemudian diberi aerasi pada akuarium yang akan dipakai. Ikan Nila dan Ikan Patin dengan ukuran yang seragam ditebar pada akuarium yang telah disiapkan. Ikan diberikan pakan sebanyak 2,5 gram perharinya sebanyak 3 kali sehari.
            Untuk semua ikan pada salah satu akuarium dan lakukan pembedahan untuk mengambil lambung ikan, setelah lambung diambil lakukan penimbangan untuk mengetahui bobot lambung. Bobot lambung yang diperoleh dinyatakan sebagai bobot lambung dalam keadaan ringan atau nol jam setelah makan. 60 menit setelah pemberian pakan ambil semua pada salah satu akuarium yang lain dan lakukan juga pembedahan pada bagian ventral untuk dapat mengambil lambung ikan serta melakukan penimbangan untuk mengetahui bobot lambung.




III. TINJAUAN PUSTAKA
Laju pengosongan lambung dapat didefinisikan sebagai laju dari sejumlah pakan yang bergerak melwati saluran pencernaan per-satuan waktu tertentu, yang dinyatakan sebagai g/jam atau mg/menit. Faktor- faktor yang mempengarugi laju pengosongan lambung menurut Arispurnomo (2010) antara lain adalah sebagai berikut :
1. Pompa Pilorus dan Gelombang Peristaltik
Pada dasarnya, pengosongan lambung dipermudah oleh gelombang peristaltik pada antrum lambung, dan dihambat oleh resistensi pilorus terhadap jalan makanan. Dalam keadaan normal pilorus hampir tetap, tetapi tidak menutup dengan sempurna, karena adanya kontraksi tonik ringan. Tekanan sekitar 5 cm, air dalam keadaan normal terdapat pada lumen pilorus akibat pyloric sphincter. Ini merupakan penutup yang sangat lemah, tetapi, walaupun demikian biasanya cukup besar untuk mencegah aliranchyme ke duodenum kecuali bila terdapat gelombang peristaltik antrum yang mendorongnya.
Gelombang peristaltik pada antrum, bila aktif, secara khas terjadi hampir pasti tiga kali per menit, menjadi sangat kuat dekat insisura angularis, dan berjalan ke antrum, kemudian ke pilorus dan akhirnya ke duodenum. Ketika gelombang berjalan ke depan, pyloric sphincter dan bagian proksimal duodenum dihambat, yang merupakan relaksasi reseptif. Pada setiap gelombang peristaltik, beberapa millimeter chyme didorong masuk ke duodenum.
            Derajat aktivitas pompa pilorus diatur oleh sinyal dari lambung sendiri dan juga oleh sinyal dari duodenum. Sinyal dari lambung adalah derajat peregangan lambung oleh makanan, dan adanya hormon gastrin yang dikeluarkan dari antrum lambung akibat respon regangan. Kedua sinyal tersebut mempunyai efek positif meningkatkan daya pompa pilorus dan karena itu mempermudah pengosongan lambung. Sebaliknya, sinyal dari duodenum menekan aktivitas pompa pilorus.          Pada umumnya, bila volume chyme berlebihan atau chyme tertentu berlebihan telah masuk duodenum. Sinyal umpan balik negatif yang kuat, baik syaraf maupun hormonal dihantarkan ke lambung untuk menekan pompa pilorus. Jadi, mekanisme ini memungkinkan chyme masuk ke duodenum hanya secepat ia dapat diproses oleh usus halus.
2. Volume Makanan
Volume makanan dalam lambung yang bertambah dapat meningkatkan pengosongan dari lambung. Tekanan yang meningkat dalam lambung bukan penyebab peningkatan pengosongan karena pada batas-batas volume normal, peningkatan volume tidak menambah peningkatan tekanan dengan bermakna,. Sebagai gantinya, peregangan dinding lambung menimbulkan refleks mienterik lokal dan refleks vagus pada dinding lambung yang meningkatkan aktivitas pompa pilorus. Pada umumnya, kecepatan pengosongan makanan dari lambung kira-kira sebanding dengan akar kuadrat volume makanan yang tertinggal dalam lambung pada waktu tertentu.
3. Hormon Gastrin
Peregangan serta adanya jenis makanan tertentu dalam lambung menimbulkan dikeluarkannya hormon gastrin dari bagian mukosa antrum. Hormon ini mempunyai efek yang kuat menyebabkan sekresi getah lambung yang sangat asam oleh bagian fundus lambung. Akan tetapi, gastrin juga mempunyai efek perangsangan yang kuat pada fungsi motorik lambung. Yang paling penting, gastrin meningkatkan aktivitas pompa pilorus sedangkan pada saat yang sama melepaskan pilorus itu sendiri. Jadi, gastrin kuat pengaruhnya dalam mempermudah pengosongan lambung. Gastrin mempunyai efek konstriktor pada ujung bawah esofagus untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus selama peningkatan aktivitas lambung.
4. Refleks Enterogastrik
Sinyal syaraf yang dihantarkan dari duodenum kembali ke lambung setiap saat, khususnya bila lambung mengosongkan makanan ke duodenum. Sinyal ini mungkin memegang peranan paling penting dalam menentukan derajat aktivitas pompa pilorus, oleh karena itu, juga menentukan kecepatan pengosongan lambung. Refleks syaraf terutama dihantarkan melalui serabut syaraf aferen dalam nervus vagus ke batang otak dan kemudian kembali melalui serabut syaraf eferen ke lambung, juga melalui nervus vagus. Akan tetapi, sebagian sinyal mungkin dihantarkan langsung melalui pleksus mienterikus. Refleks enterogastrik khususnya peka terhadap adanya zat pengiritasi dan asam dalam chyme duodenum. Misalnya, setiap saat dimana pH chyme dalam duodenum turun di bawah kira-kira 3.5 sampai 4, refleks enterogastrik segera dibentuk, yang menghambat pompa pilorus dan mengurangi atau menghambat pengeluaran lebih lanjut isi lambung yang asam ke dalam duodenum sampai chyme duodenum dapat dinetralkan oleh sekret pankreas dan sekret lainnya. Hasil pemecahan pencernaan protein juga akan menimbulkan refleks ini, dengan memperlambat kecepatan pengosongan lambung, cukup waktu untuk pencernaan protein pada usus halus bagian atas. Cairan hipotonik atau hipertonik (khususnya hipertonik) juga akan menimbulkan refleks enterogastrik. Efek ini mencegah pengaliran cairan nonisotonik terlalu cepat ke dalam usus halus, karena dapat mencegah perubahan keseimbangan elektrolit yang cepat dari cairan tubuh selama absorpsi isi usus.
5. Umpan Balik Hormonal dari Duodenum – Peranan Lemak
Bila makanan berlemak, khususnya asam-asam lemak, terdapat dalam chyme yang masuk ke dalam duodenum akan menekan aktivitas pompa pilorus dan pada akhirnya akan menghambat pengosongan lambung. Hal ini memegang peranan penting memungkinkan pencernaan lemak yang lambat sebelum akhirnya masuk ke dalam usus yang lebih distal. Walaupun demikian, mekanisme yang tepat dimana lemak menyebabkan efek mengurangi pengosongan lambung tidak diketahui secara keseluruhan. Sebagian besar efek tetap terjadi meskipun refleks enterogastrik telah dihambat. Diduga efek ini akibat dari beberapa mekanisme umpan balik hormonal yang ditimbulkan oleh adanya lemak dalam duodenum.
6. Kontraksi Pyloric Sphincter
Biasanya, derajat kontraksi pyloric sphincter tidak sangat besar, dan kontraksi yang terjadi biasanya dihambat waktu gelombang peristaltik pompa pilorus mencapai pilorus. Akan tetapi, banyak faktor duodenum yang sama, yang menghambat kontraksi lambung, dapat secara serentak meningkatkan derajat kontraksi dari pyloric sphincter.Faktor ini menghambat atau mengurangi pengosongan lambung, dan oleh karena itu menambah proses pengaturan pengosongan lambung. Misalnya, adanya asam yang berlebihan atau iritasi yang berlebihan dalam bulbus duodeni menimbulkan kontraksi pilorus derajat sedang.
7. Keenceran Chyme
Semakin encer chyme pada lambung maka semakin mudah untuk dikosongkan. Oleh karena itu, cairan murni yang dimakan, dalam lambung dengan cepat masuk ke dalam duodenum, sedangkan makanan yang lebih padat harus menunggu dicampur dengan sekret lambung serta zat padat mulai diencerkan oleh proses pencernaan lambung. Selain itu pengosongan lambung juga dipengaruhi oleh pemotongan nervus vagus dapat memperlambat pengosongan lambung, vagotomi menyebabkan peregangan lambung yang relatif hebat, keadaan emosi, kegembiraan dapat mempercepat pengosongan lambung dan sebaliknya ketakutan dapat memperlambat pengosongan lambung.
Derajat kepenuhan lambung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kepenuhan lambung, yaitu berat dan ukuran tubuh yang berbeda, perbedaan jenis ikan, ukuran dan bentuk lambung, keadaan tubuh ikan, dan perbedaan habitat ikan. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh kebiasaan makanan (Affandi, 2002). Kebiasaan makanan ikan berhubungan dengan bentuk, posisi mulut, gerigi dalam rahang, dan kesesuaian tapis insang. Makanan yang tersedia di alam dimanfaatkan oleh ikan, pemanfaatan ini dapat diketahui dengan mengambil contoh makanan yang ada pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar pakan harian yang diambil ikan dalam berbagai umur dan ukuran (Affandi, 2002). Laju pengosongan lambung dapat dijadikan indikator tentang dasar penentuan frekuensi pemberian pakan.
Digesti adalah proses penghancuran zat makanan (makro molekul)  menjadi zat yang terlarut (mikro molekul) sehingga zat makanan tersebut mudah diserap dan kemudian digunakan dalam proses metabolisme, proses ini memerlukan waktu. Waktu yang diperlukan untuk mencerna makanannya itu disebut dengan laju digesti. Alat-alat pencernaan terdiri atas dua saluran yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan meliputi mulut, rongga mulut, pharink, esophagus, lambung, pilorus, usus, rektum, dan anus. Kelenjar pencernaanya terdiri atas hati, empedu, dan pankreas (Fujaya, 2002). Proses degradasi protein terjadi di lambung dan usus, sementara penyerapan makanan terjadi di usus (Fujaya, 2004 dalam Rachmansyah et al., 2008). Makin cepat waktu pengosongan lambung, frekuensi pemberian pakan yang dibutuhkan makin tinggi (Gwither dan Grove, 1981 dalam Tahapari dan Suhenda, 2009). Makin kecil ukuran ikan, makin sering frekuensi pemberian pakannya (Kono dan Nose, 1971 dalamTahapari dan Suhenda, 2009). Mengukur perkembangan dan konsumsi sangat pentingsalah satu komponen untuk memahami ekologi dari banyak jenis ikan, ini untuk mengintegrasikan keterangan dari faktor biotik dan abiotik (Kwak et al., 2006 dalamTetzlaff et al., 2010).
Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:
Filum                           :Chordata
Sub Filum                    :Vertebrata
Kelas                           :Pisces
Sub Kelas                    :Teleostei
Ordo                            :Ostariophysi
Sub Ordo                    :Siluroidei
Family                         :Schilbeidae
Genus                          :Pengasius
Spesies                        :Pangasius hypopthalmus.

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:
Kingdom                     :Animalia
Filum                           :Chordata
Sub Filum                    :Vertebrata
Kelas                           :Pisces
Sub Kelas                    : Teleosin
Ordo                            : Percormorphii
Sub Ordo                    : Percoidae
Famili                          : Cichlidae
Genus                          :Oreochromis
Spesies                        :Oreochromis niloticus
            Morfologi ikan nila yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembuhkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya.
   Menurut Yuwono (2001) faktor utama yang mempengaruhi kebutuhan  energi pada ikan  adalah:
Ø  Spesies terdapat suatu perbedaan tingkah laku  yang besar diantara spesies ikan misalnya pola aktivitas yang berbeda
Ø  Pertumbuhan dapat dianggap sebagai  hasil dari proses  yang cenderung  yang cenderung untuk menurunkan  energi tubuh
Ø  Ukuran ikan yang memiliki  ukuran yang lebih kecil maka kecepatan metabolismenya  lebih tinggi  dari pada ikan yang memiliki ukuran tubuh yang besar
Ø  Aktifitas fisiologi ikan perbedaannya dari laju pertumbuhan, dalam komposisi pertumbuhan , dalam tingkah laku dan dalam aktifitas efisiensi energi  serta pada lamanya mencerna makanan hingga mencapai laju pengosongan lambung yang sesuai.
Ø  Suhu lingkungan
Setelah mengetahui fungsi pakan pada ikan maka pakan yang dikonsumsi oleh ikan kadalam tubuh, juga diperlukan dalam proses digesti, dan fungsi laju digesti pada ikan yaitu untuk membantu laju metabolisme ikan agar dalam prosesnya makanan yang masuk kedalam tubuh ikan akan seimbang dan supaya dapat digunakan oleh tubuh dalam pertumbuhan.








DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Ridwan dan Tang, Usman Muhammad. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekan baru. Universitas Riau Press.

Arispurnomo. 2010. Laju pengosongan lambung [terhubung berkala]http://arispurnomo.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kecepatan-pengosongan-lambung   (5 Mei 2011).

Fujaya. 2002. Fisiologi Ikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional, Makassar.

Rachmansyah .2008. Aktivitas enzim protease dalam lambung dan usus ikan kerapu macan setelah pemberian pakan. Media akuakultur vol.3 no.1, th 2008.

Tahapari dan Suhenda, 2009. Penentuan frekuensi pemberian pakan untuk mendukung pertumbuhan benih ikan patin pasupati. Berita biologi 9(6)-desember 2009.

Tetzlaff, Jared and william. 2010. Consumption and Growth Patterns of Flathead Catfish Derived From a Bioenergetics Model. School of Forest Resources and Conservation, University of Florida, Box 110600, Gainesville, FL 32653, USA.The Open Fish Science Journal, 2010, 3, 101-109.

Saanin. 1984. Taksonomi dan Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta, Bandung.

Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Purwokerto: Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.

PEMIJAHAN ANABANTIDAE Betta splendens


Laporan Praktikum ke-4                Hari/Tanggal  : Senin/ 12 November 2012     
m.k. Fisiologi Reproduksi                Asisten             : Cahyadin
        Organisme Akuatik                                             


PEMIJAHAN ANABANTIDAE Betta splendens


KELOMPOK II

Intan Kurnia Sakarosa           C14100056



logo_ipb









                            

 
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012














I.     PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Ikan cupang (Betta splendens) merupakan jenis ikan hias air tawar. Ikan cupang merupakan komoditas ikan hias yang ada di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi ikan cupag disukai pada semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ikan cupang merupakan jenis ikan yang cukup mudah untuk dibudidayakan. Keberhasilan dalam membudidaya ikan khususnya ikan cupang ditentukan bukan hanya sekedar keunggulan ikan induk melainkan proses pembudidayaan dalam menghasilkan suatu keturunan baru dalam jumlah serta kualitas yang baik. Salah satu parameter yang menentukan keberhasilan budidaya adalah proses pemijahan dan kontrol yang rutin.
Proses pemijahan merupakan pertemuan ikan jantan dan ikan betina yang diukur dengan keluarnya sel gamet jantan dan betina. Proses ini memiliki banyak aspek yang menentukan baik buruknya hasil yang diperoleh. Aspek-aspek tersebut antara lain seleksi induk yang baik, persiapan wadah dan substrat yang baik hingga perlakuan sifat atau tipe pemijahan.
Pemijahan kali ini digunakan ikan cupang sebagai objek pengamatan pemijahan. Pemilihan ikan cupang dilakukaan karena ikan ini mampu  dipelihara pada lahan yang sumber airnya terbatas, tumbuh cepat, mampu menghasilkan telur yang banyak, dan lebih tahan penyakit serta pemeliharaannya lebih mudah dibandingkan ikan lainnya.      

1.2         Tujuan
Untuk mempelajari cara pemijahan dan penanganan larva pada ikan Anabantidae.

II.    PEMBAHASAN

2.1         Pembahasan
Genus Betta terdiri atas dua kelompok tipe reproduksi. Ruber et al. (2004) menyebutkan bahwa 70 % dari anabantoid punya kebiasaan reproduksi khusus. Ikan jantannya mengambil telur yang telah dipijahkan ke dalam mulutnya dan menginkubasinya hingga empat minggu (Mouthbreeder). Sedangkan sisanya 30% dari anabantoid menghasilkan buble nest (Ruber et al. 2004) . Ikan cupang (Betta splendens) adalah bagian dari kelompok 30 % anabantoids yang memiliki gaya reproduksi berupa pembentukan buble nest.
Dalam Ruber et al. (2004), ikan dengan kebiasaan menghasilkan nest akan memiliki kebiasaan yang “malu-malu” selama masa pemijahan. Betina biasanya menunjukkan gejala naik dan turun sebagai pertanda birahinya mulai muncul. Kebiasaan ikan cupang jantan yang tergolong agresif mulai mengalami penurunan saat melihat pertanda birahi dari cupang betina. Selama masa pemijihan, cupang jantan cenderung lebih jinak. Setelah masa pemijahan usai, cupang jantan akan kembali kepada tempramen awalnya sebagai “fighting fish”.
Rainwater dan Miller (1966) menyebutkan bahwa identifikasi awal kesiapan memijah pada ikan cupang ditandai dengan makin cerahnya warna pada ikan cupang jantan sehingga lebih mencolok. Sedangkan pada betina yang siap memijah menunjukkan adanya garis-garis horizontal yang menghilang, dan hadirnya warna yang lebih gelap dan serangkaian garis di dorsoventral yang cerah. Setelah fase ini terlewati, ikan cupang jantan mulai membangun nest dan mendekati cupang betina. Kecepatan renang cupang jantan saat mendekati cupang betina adalah lambat, dengan undulasi bagian sirip kaudal. Cupang betina mengikuti gerakan cupang jantan jika merasa cocok. Jika betina merespon dengan bergerak cepat, maka cupang jantan akan menjadi lebih agresif.
Rainwater dan Miller (1966) juga menjelaskan, saat akan mengeluarkan telur, cupang betina mendekatkan posisi urogenitalnya di dekat buble nest. Setelah telur dilepas, cupang jantan secara bersamaan juga mengeluarkan sperma. Ejakulasi pada ikan cupang jantan susah untuk diamati (Forselius 1957 dalam Rainwater dan Miller 1966). Telur ikan B.splendens kemudian tenggelam secara perlahan ke dasar atau terperangkap dalam tubuh ikan cupang jantan yang membentuk kurva. Dalam selang waktu 4-8 detik saja, ikan cupang jantan bisa menangkap kurang lebih 90% telur-telur itu di dalam mulutnya sebelum jatuh menyentuh dasar. Diameter telur ikan cupang berkisar 0.8 sampai 0.9 mm (Choola 1930 dalam Rainwater dan Miller 1966). Sementara jantan membawa telur-telur di dalam mulutnya untuk diletakkan di buble nest, ikan cupang betina berenang ke dasar untuk mengambil material di dasar dan membawanya menuju nest di samping ikan cupang jantan. Kebiasaan memakan telur oleh ikan tidak pernah ditemukan pada cupang setelah pemijahan. Setelah semua telur diletakkan pada nest, betina dipisahkan dari jantan. Berdasarkan praktikum pemijahan cupang yang telah dilakasanakan ikan cupang jantan telah mengeluarkan bubble nest dan terjadi pemijahan, namun tidak terjadi penetasan telur , hal ini dapat disebabkan karena kurangnya kualitas dari induk ikan cupang, sebagaimana diliteratur menyatakan kualitas telur dan larva sangat ditentukan oleh induknya.      
Menurut Sumandinata (1981), fekunditas dapat menunjukkan kemampuan induk untuk menghasilkan anak ikan di dalam suatu pemijahan. Ikan Cupang (Betta splendens) termasuk ikan berfekunditas kecil karena dari sepuluh pasang induk yang diamati, terdapat sebanyak 775 butir hingga 900 butir telur yang dioviposisikan (Yustina et.al. 2003). Besar kecilnya fekunditas dipengaruhi oleh makan, ukuran ikan dan kondisi lingkungan dapat juga dipengaruhi oleh diameter telur (Woynarivich dalam Yustina & Arnentis 2003). Umumnya ikan yang berdiameter telur 0,6 – 1,1 mm mempunyai fekunditas 100.000 sampai 300.000 butir. Hasil penelitian Diani et.al. (2010), menunjukkan bahwa ikan cupang serit memiliki jumlah telur berkisar 408-815 butir per ekor induk.
Menurut (Yustina dan Arnentis 2001), fekunditas dapat dihitung sebagai berikut :  
F =
Dimana :
 F =fekunditas (butir)
G = berat gonad(g)
V = isi pengenceran (ml)
Q = telur contoh(g)
X=Jumlah telur tiap ml

            Telah ditemukan fakta bahwa dari indukan ikan cupang halfmoon yang berkualitas hanya menghasilkan 70 % anakan yang berkualitas. Oleh karena itu diharuskan melakukan pemilihan calon indukan yang matang seksual, sehingga tingkat keberhasilan dan angka tetas telur (HR) mencapai 80 % hingga 90 %. Cupang jenis ini memiliki sirip dan ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter Goettner pada tahun 1982. Selain itu juga terdapat cupang jenis serit, cupang jenis ini pertama kali dibudidayakan oleh seorang peternak cupang bernama A. Yusuf yang tinggal di daerah Jakarta Timur, pada tahun 1997 namun adapula sebagian mengatakan dibudidayakan pertamakali oleh Muhammad Yamin dari daerah Jakarta Barat. Ciri utamanya adalah sirip dan ekornya yang menyerupai sisir sehingga di namakan serit (Trubus 2010).
            Menurut Balai Besar Pengkajian (2012), perkawinan indukan Ikan Cupang Serit  ini belum tentu langsung menghasilkan serit silang. Baru pada turunan kedua keturunan serit silang muncul, itupun hanya sekitar 25% dari keseluruhan anakan. Karena serit silang tergolong sulit diproduksi secara kontinyu. Tingkat kelangsungan hidup dari satu pasang ikan cupang mampu menghasilkan anakan atau survival rate (SR) sebesar 90 % atau sekitar 500 hingga 700 ekor. Selanjutnya, cupang jenis plakat, cupang plakat hampir mirip cupang laga tapi mempunyai ekor dan sirip lebih lebar dan indah. Ada juga cupang plakat untuk dikembangkan agar tubuhnya tumbuh lebih besar & indah di banding dengan cupang umumnya yaitu ber ukuran sekitar 10 – 12 cm diukur dari ujung mulutsamapai ujung ekornnya. Jadi besarnya kurang lebih dua kali besar ikan cupang normal yang merupakan persilangan antara cupang alam dengan plakat yang berbadan agak besar yang menjadikan ikan jenis baru yaitu ikan cupang giant plakat (Sudradjad 2003).
          Menurut Lesmana et al (2001), ukuran maksimal ikan cupang mencapai sekitar 6 cm. Induk cupang akan mulai memijah pada umur 5-6 bulan. Wadah pemijahannya dapat berupa akuarium, bak, atau toples. Penanganan telur ikan cupang hasil pemijahan terdiri atas cara, yaitu telur-telur hasil pemijahan diasuh oleh induk jantan (parental care)  atau telur dibiarkan menetas sendiri tanpa asuhan induk jantan. Kedua cara tersebut menghasilkan benih ikan cupang berbeda-beda, telur yang diasuh oleh induk jantan akan menetas lebih banyak, karena tingkat predasinya rendah. Namun cara membiarkan telur menetas sendiri juga ada kelebihannya, yaitu telur lebih aman dari pemangsaaan induk jantan yang tidak mau mengasuh telurnya dan induk jantan tersebut dapat cepat pulih serta cepat matang gonad sehingga induk jantan bisa memijah lagi.
Bila dipilih cara kedua, maka kedua induk setelah memijah diangkat dan dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan semula. Kemudian di dalam akuarium yang berisi telur ditambahkan larutan Methylene Blue 0,5 mg/l air akuarium untuk mencegah serangan jamur. Cadangan makanan larva berupa kuning telur (yolk sack) akan habis, biasanya pada hari ketiga setelah menetas, larva diberi makan suspensi kuning telur ayam rebus atau dengan infusoria (sebangsa protozoa). Setelah benih ikan bertambah besar, pakan yang diberikan berupa naupli Artemia sampai ikan dapat  memakan cacing rambut atau kutu air.
Pemindahan benih ke wadah yang lebih besar perlu dilakukan apabila pada wadah pertama terlalu padat. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan ikan tidak terhambat. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah ikan berumur satu bulan. Sedangkan setelah ikan berumur 2 bulan, perlu dilakukan penyortiran jenis kelamin untuk mencegah ikan-ikan jantan berkelahi, dan setiap ikan jantan hasil seleksi tersebut dimasukkan kedalam wadah yang terpisah.
          Induk betina yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang buncit  dan agak transparan sehingga telur nampak di dalam perut. Sedangkan pada induk jantan yang matang gonad warna siripnya lebih cerah, lebih agresif. Prinsipnya pemijahan dilakukan secara berpasangan dalam setiap wadah yang terpisah (akuarium, ember atau dalam kotak-kotak yang ditempatkan didalam bak). Sebelum dicampurkan induk betina dimasukkan dalam botol agar tidak mengganggu jantan dalam membuat sarang busa. Sarang dibuat dengan cara mengambil gelembung udara dari permukaan dan melepaskannya ke bawah permukaan daun atau tanaman air yang mengapung dipermukaan air.
Sarang yang telah di buat oleh jantan sudah selesai, kemudian induk betina dikeluarkan dari botol dan dicampurkan dengan jantan agar dapat memulai pemijahan. Pada saat pemijahan tubuh jantan menyelubungi induk betina membentuk huruf ” U ” dengan ventral saling berdekatan selama  satu  menit sampai mengeluarkan telur yang segera dibuahi sperma. Telur perlahan tenggelam dan akan segera diambil oleh induk jantan dengan mulutnya untuk selanjutnya diletakkan disarang busa. Proses pemijahan berlangsung selama satu jam dengan 20-25 tahap pemijahan yang sama. Ketika aktifitas pemijahan berakhir, induk betina dipindahkan dari tempat pemijahan untuk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, namun sebaiknya lebih dulu dimasukkan dalam larutan metyline blue 2 mg/liter selama 24 jam untuk mengobati luka yang mungkin ada setelah pemijahan. Sedang induk jantan tetap pada wadah pemijahan untuk merawat dan menjaga telur sampai menetas.


 DAFTAR PUSTAKA
Agus. 2009. Beternak ikan cupang. http://agustomank. com/foto-ikan/ [ 8    November 2012]

Balai Besar Pengkajian. 2012. Usaha pemijahan ikan hias cupang (Betta           splendens).http://bbp2tp.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_conte   nt&ta          sk=view&id=304&Itemid=61 [ 9 November 2012]

Diani et.al.. 2010. Usaha pembenihan ikan hias cupang (Betta splenders) di            kabupaten serang. Bogor : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten.

Lesmana D.S, Dermawan I. 2001. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer.             Jakarta: Penebar Swadaya

Pramono B. 2011. Teknologi budidaya ikan hias.      http://taufikbudhipramono.unsoed.ac.id teknologi-budidaya-          ikan-hias-3/ [8    November 2012]

Rainwater FL, R J Miller. 1966. Courtship and reproductive behavior of the Siamese Fighting Fish, Betta splendens Regan (Pisces, Belontiidae). Proc Of The Okla. Acad. Of Sci. For 1966 :98-114

Ruber L, R Britz, H H Tan, Peter K L Ng, R Zardoya. 2004. Evolution of mouthbrooding and life-history correlates in the fighting fish genus Betta. Evolution 58 (4) : 799-813

Sudradjad. 2003. Pembenihan Dan Pembesaran Cupang Hias. Yogyakarta:             Kanisius


Yustina et.al. 2003. Daya Tetas dan Laju Pertumbuhan Larva Ikan Hias Betta
            splendens di Habitat Buatan. Jurnal Natur Indonesia. Vol 5(2): 129-132.






LAMPIRAN


Print screen daftar pustaka:
           




                                                                                                               


















macam SUBSTRAT


Intan Kurnia Sakarosa
C14100056
Kelompok 4
Batu bata
Batu bata dibentuk dari tanah liat dan lumpur yang dikeringkan atau dibakar sampai berwarna kemerahan. Tanah liat merupakan komposit yang tersusun dari senyawa Al2O2 dan oksida silica (SiO2). Kegunaan batu bata dalam sistem filter fisik adalah sebagai media penyaring untuk partikel berukuran sedang dan memiliki nama lainnya adalah system gorgfilter . Batu bata digunakan setelah air mengalami proses penyaringan pada lapisan kerikil. Seperti halnya pasir, batu bata juga memiliki rongga udara sehingga dapat melekatkan padatan halus tidak mengendap dan daya serapnya tinggi. Menurut Rizaldy (2012) batu bata memiliki daya serap air cukup tinggi terlebih lagi bila butiran lempung penyusunnya kasar, oleh karena itu batu bata dapat menyerap air yang mengandung padatan kotoran tidak mengendap dalam rongganya.
Batu bata dapat mengurangi tingkat kekeruhan dan mikroba pada air limbah tahu. Pada penelitian yang beliau lakukan beliau meletakkan batu bata pada ketebalan berbeda di masing-masing wadah. Dan setelah dilihat hasilnya terjadi penurunan tingkat kekeruhan dan mikroba tetapi tidak terlalu signifikan. Sistem penyaringan dengan batu bata disebut juga dengan sistem grogfilter. Batu bata digunakan karena rongga udara yang terdapat dalam batu bata cukut besar sehingga daya serapnya tinggi (Aidah dkk 2009)

Batu Split
Batu split atau batu pecah merupakan batu yang berasal dari pecahan batu atau bangunan. Batu ini memiliki tekstur yang kasar dan memiliki pori-pori yang ukurannya kecil. Batu split banyak digunakan dalam biofilter yang nantinya akan timbul lapisan lendir pada batu jika terdapat air buangan atau limbah melewatinya. Air limbah akuarium baik dari sisa pakan atau sisa feses ikan yang mengandung zat organik yang belum terurai apabila melewati lapisan ini akan mengalami penguraian secara biologis (Anonim 1997). Semakin besar luas permukaan substrat ini maka pengendapan limbah air oleh substrat akan semakin efisien.

BatuZeolit
          Zeolitmerupakanbatuanalam yang mengandung mineral darikristalaluminosilikat. Batuzeolitdigunakanmengurangikesadahan air danjugauntukmenghilangkankationmaupun anion secarakomplet (deionisasi).Selainituzeolitdapatdimanfaatkansebagaipenyaring, penukar ion, penyerapbahan, sertakatalisator (Rahmawati2009).Zeolitdibedakanmenjadi 2 yaitu, zeolitalamdansintetis.Zeolitalamdapatterbentukkarenaadanya proses perubahanalamdaribatuanvulkanik, sedangkanzeolitsintetisterbentukkarenarekayasamanusia (Rahmawati2009). Zeolitmempunyaistrukturberonggadanberpori-pori yang bentuknyaseragamsertapermukaan yang luas.Kemampuanabsorbsizeolitsintetislebihbaikdarpadazeolitalam. Hal tersebutdisebabkanzeolitalammasihtercampurdengan mineral lain.
          Keunggulan dari batu zeolit adalah dapat menetralkan pH, menyaringpartikelbesar, menambah mineral, danmenanggulangi Fe, Mndan sulfur.Selainitubatuzeolitdapatdigunakansebagai media tanam, media pemeliharaanhewan (kucing, hamster, anjing) sertadapatdigunakansebagaisistemfiltrasi air.Penggunanbatuzeolitdalamsistemfiltrasi air dapatmembantudalammenahanhasiloksidasibesidanmangan (Febriana2009).Zeolitmempunyaikemampuanmengurangikandunganmangan di dalam air melaluikemampuanadsorbsinyadandidukungdengankemampuanpenukar ion.Luaspermukaan yang besardenganukuranpori yang kecilmembuatzeolitbertidaksebagaipenukar ion yang baik di dalamsuatuperairan. Diameter pori-poridapatdigunakansebagipenyaringmakanansehingga air tidakmudahtercemardengandengansisa-sisapakan (Rahmawati2009).


Pasir Malang
Pasirmalangmerupakanpasir yang berasaldarigunungberapiataubiasanyadisebutdenganpasirvulkanik. Pasirmalangmemilikitekstur yang ringan, memilikirongga-ronggadan porous. Pasirmalangbiasanyadigunakansebagaisubstratpasirpadaakuariumdankarenapadaumumnya material gunungberapimengandungbanyak mineral makapasirmalangbaikuntukpertumbuhantanaman (Anonim2 2012). Karenapasirmalangmemilikirongga, biasanyadigunakansebagaisubstratuntuksistemundergravelpadaakuarium.

Pasir Silika
Merupakan hasil dari pelapukan bebatuan yang mengandung mineral utama seperti kuarsa dan feldspar. Kegunaan Pasir silika adalah untuk menghilangkan sifat fisik air, seperti kekeruhan/air berlumpur dan menghilangkan bau pada air. Pada umumnya pasir silika digunakan pada tahap awal sebagai saringan dalam pengolahan air kotor menjadi air bersih. Pasir Silika banyak digunakan untuk menyaring lumpur, tanah dan partikel besar /kecil dalam air dan biasa digunakan untuk penyaringan tahap awal (pre-treatment). Pasir silika adalah untuk menghilangkan kandungan besi (Fe), menghilangkan sedikit Mangan (Mn2+) dan warna kuning pada air tanah atau sumber air lainnya. Fe dan Mn dalam air biasanya diturunkan dengan cara aerasi air pada pH>7 sehingga kedua logam ini mengendap sebagai oksidanya. Baik pasir silica banyak digunakan pada system penyaringan air secara konvensional dan dapat  memperbaiki kualitas fisik air seperti kekeruhan.
Reaksinya asebagai berikut:
K 2 Z.MnO.Mn 7 O+ 4 Fe (HCO 3)2 = K 2Z + 3 MnO 2 + 2 Fe2 O3 + 8 CO2  + 4 H2 O
K 2 Z.MnO.Mn 7 O+ 2 Mn (HCO 3)2 = K 2Z + 5 MnO 2 + 4CO2 +2 H2 O.
Paving Block
Paving block merupakan bahan yang dapat menggantikan aspal serta pelat beton dan dapat digunakan sebagai lapisan perkerasan lapangan terbang, terminal bus, parkir mobil, taman kota dan tempat bermain. Namun, paving block dalam praktikum mata kuliah Manajemen Kualitas Air digunakan sebagai salah satu substrat untuk sistem filter. Paving block tersusun atas semen Portland (PC), agregat halus (pasir dan abu batu), dan air. Semen Portland pada paving block mempunyai fungsi utama sebagai pengikat butir-butir agregat hingga membentuk suatu massa padat dan mengisi rongga-rongga udara di antara butir-butir agregat. Sedangkan fungsi air pada campuran paving block adalah untuk membantu reaksi kimia yang menyebabkan berlangsungnya proses pengikatan. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa paving block merupakan salah satu substrat yang memiliki rongga udara (pori-pori) untuk meminimalisasi aliran permukaan dan memperbanyak infiltrasi dalam tanah serta mampu menyebabkan proses pengikatan jika bereaksi dengan air.
Akuarium Kontrol Dalam
Kondisi akuarium yang berada di dalam ruangan berbeda dengan akuarium yang berada di luar ruangan. Akuarium ini tidak mendapatkan sinar matahari, melainkan hanya dari penerangan lampu saja. Dengan padat tebar yang sama, maka dapat diperkirakan bahwa  kualitas air yang berada pada akuarium indoor akan memiliki kualitas  air yang tidak lebih baik daripada kualitas air outdoor, karena tidak terjadi atau sangat kecil nilai fotosintesis. Perlakuan akuariuumm yang tidak dilengkapi oleh filter akan menyebabkan kualitas air menjaddi buruk, karena hanya mengandalkan oksigen dari aerator untuk mengurai bahan – bahan organic terlarut.
Reaksi – reaksi kimia yang terjadi di dalam akuarium indoor terjadi antara bahan – bahan organic,  partikel – partikel terlarut dan tidak terlarut, serta ion – ion yang ada di dalam akuarium. Salah satu reaksi yang terjadi antara nitrit (NH2) dengan hemoglobin darah dapat mengubah pembentukan Hb (Fe2+) menjadi MetHb (Fe3+) sehingga tidak dapat mengangkut oksigen yang menyebabkan organism kekurangan oksigen dan menjadi mati lemas (Yuningsih). Reaksi kimia lainnnya adalah reaksi antara masuknnya oksigen dan CO2 ke dalam tubuh ikan. Jika kadar CO2 rendah, maka oksigen akan banyak yang diserap tubuh, sebaliknya, jika CO2 tinggi, maka Hb akan mengikat CO2. Hal tersebut terjadi karena CO2 leih mudah diikat oleh Hb dibandingkan O2 (Affandi, 2004).
Factor lainnya yang mempengaruhi kualitas air adalah leaching dari pakan. Pakan yang mengalami leaching di air akan mengalammi degradasi fisik dan nutrient (Afrianto et.al., 2005). Pakan yang mengalami leaching nutrient akan menyebabkan lepasnya unsure – unsure penting pakan, seperti protein, lemak dan karbohidratnya. Sehingga, akan terjadi reaksi dengan lingkungan atau dengan ikannya. Sebagai contoh adalah leaching lemak yang menyebabkan lemak menutupi permukaan air (massa jenis lemak lebih rendah daripada air), sehingga menyebabkan oksigen sulit untuk berdifusi kedalam air.

Akuarium kontrol Luar

Mekanisme yang terjadi pada akuarium kontrol luar adalah terjadinya kekeruhan yang lebih tinggi dibandingkan pada akuarium kontrol dalam. Hal ini yang menjadi titik permasalahan dalam hal manajemen kualitas air skala akuarium.
Kekeruhan di dalam air disebabkan adanya kelebihan sisa pakan dan bangkai ikan mati dalam akuarium. Selain itu penyebab kekeruhan lainnya adalaha zat tersuspensi, seperti lempung, lumpur, zat organik, plankton, dan zat–zat halus lainnya. Kekeruhan merupakan sifat optis dari suatu larutan, yaitu absorbsi dan pantulan cahaya yang melaluinya. Tidak dapat dihubungkan secara langsung antara kekeruhan dengan kadar zat suspensi, karena tergantung juga kepada ukuran dan bentuk butir.
Mekanisme yang terjadi adalah terdapatnya cahaya matahari yang masuk pada akuarium, sehingga menumbuhkan plankton plankton pada akuarium. Lalu dengan terdapatnya plankton, maka akan memicu tumbuhnya bakteri dalam akuarium. Hal inilah salah satu faktor penyebab kekeruhan yang terjadi pada akuarium  kontrol luar lebih tinggi daripada akuarium kontrol dalam.
Rumus kimia air dalam lingkungan laboratorium adalah H2O. Tetapi kenyataannya di alam, rumus tersebut menjadi H2O + X, dimana X berbentuk karakteristika bilogik (bersifat hidup) ataupun berbentuk karakteristika non biologic (bersifat mati). Pengotor yang ada dalam air yang akan diolah sebelum digunakan dalam industri dapat bermacam – macam diantaranya adalah kekruhan (turbidity).




















Daftar pustaka
Affandi, E.2004.Telaah Kualitas Air.
Aidah dkk. 2009. Efektifitas Batu Bata Sebagai Media Filter Dalam Menurunkan Kekeruhan        Dan Jumlah Mikroba Pada Air Limbah Tahu.       
Afrianto, et.al..2004.PAKAN IKAN.Penerbit Kanasius:Jogjakarta
Anonim. 1997. Uji Coba Ipal Domestik Individual Biofilter Anaerob-Aerob dengan Media Batu Split. Jurnal. Bab 12 hlm. 309.
Anonim2. 2012. PASIR MALANG, KARBON AKTIF, PASIR SILIKA, PASIR ZEOLITE dan MEDIA LAINNYA. http://gudangragam.com/16421/pasir-malang-karbon-aktif-pasir-silika-pasir-zeolite-dan-media-lainnya-bandung [22 Mei 2012].
 Briyan. 2012. Penyebab Kekeruhan Pada Air Bersih. http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2231954-penyebab-kekeruhan-pada-air-bersih/#ixzz26xbRu4Lh. [20 September 2012]
Febriana.2009.Filter penyaringpenjernih air. www.scribd.com[18 Mei 2012]
Ghufran. H.M. Kardi K, dan Andi B.T.2007. Pengelolaan kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Jakarta: Rineka Cipta
Rahmawati, Anis.2009.PenurunanKandunganMangan (Mn) dariDalam Air MenggunakanMetodeFiltrasi.Skripsi.FakultasKejuruanIlmuPendidikan, UniversitasSebelasMaret
Rizaldy.2012. DayaSerap Batu Bata. http://rizaldyberbagidata.Scribd.com.html  (20 September 2012).
Yuningsih.Keracunan nitrit-nitrat pada ternak dan upaya pencegahannya.[terhubung berkala].Jurnal Ilmiah.[19 September 2012]


Rabu, 20 Februari 2013

Pengaruh Tekanan Osmotik Media Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Patin (Pangasius sp.) Pada Salinitas 5 ppt


Judul     : Pengaruh Tekanan Osmotik Media Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Patin (Pangasius sp.) Pada Salinitas 5 ppt
Nama  : Klory Adi Nugrahaningsih
NRP    : C14104009
            Benih ikan patin dapat tumbuh dan hidup dengan baik pada kisaran salinitas 3 sampai 7 ppt. Salinitas dan tekanan osmotik berhubungan erat, yaitu tekanan osmotik disebabkan oleh perbedaan konsentrasi antara cairan yang satu dengan yang lainnya yang dibatasi oleh membran semipermeabel, dalam hal ini larutan yang satu adalah media pemeliharaan bersalinitas 5 ppt dan larutan lainnya adalah cairan tubuh ikan. Namun pengaruh tekanan osmotik terhadap tingkat kelangsungan hidup serta pertumbuhan belum diketahui dengan jelas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan penambahan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) yang berfungsi sebagai osmoregulator (pengaturan), pengaturan permeabilitas dinding sel dan dapat meningkatkan tekanan osmotik.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali. Perlakuan yang diberikan meliputi Kontrol tanpa penambahan Ca(OH)2, A dengan penambahan 10 mg/l Ca(OH)2, B dengan penambahan 20 mg/l Ca(OH)2, C dengan penambahan 30 mg/l Ca(OH)2, serta D dengan penambahan 40 mg/l Ca(OH)2. Parameter yang diamati antara lain tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, pertumbuhan bobot, pertumbuhan panjang, dan kualitas air.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa diantara Kontrol dan empat perlakuan penambahan 10 mg/l, 20 mg/l, 30 mg/l, dan 40 mg/l Ca(OH)2, perlakuan dengan penambahan Ca(OH)2 sebanyak 20 mg/l menghasilkan media pemeliharaan yang paling baik. Pada akhir penelitian, perlakuan tersebut menghasilkan benih ikan patin dengan pertumbuhan yang baik yaitu memiliki bobot 1,58±0,19 gram, laju pertumbuhan harian 6,13 %, dan panjang 4,84 cm. Secara umum, kualitas air selama masa pemeliharaan berada dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan benih ikan patin.